Penyaluran Pinjaman IMF

21 Desember, 2017

IMF membantu negara-negara yang dilanda krisis dengan memberi dukungan keuangan kepada mereka untuk menciptakan ruang gerak saat mereka menerapkan kebijakan penyesuaian (adjustment policy) untuk memulihkan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. IMF juga menyediakan pembiayaan pencegahan (precautionary financing) untuk membantu mencegah terjadinya krisis dan menyediakan perlindungan apabila krisis terjadi. Instrumen peminjaman IMF terus disempurnakan untuk memenuhi kebutuhan negara-negara yang senantiasa berubah.

Mengapa krisis terjadi?

Krisis dapat terjadi karena berbagai macam penyebab yang kompleks, dan dapat bersifat domestik, eksternal, atau keduanya.

  • Faktor-faktor domestik termasuk kebijakan fiskal dan moneter yang tidak tepat, yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan ekonomi yang besar (seperti jumlah yang besar pada defisit neraca transaksi berjalan dan defisit fiskal serta tingginya tingkat utang luar negeri dan utang pemerintah); nilai tukar yang dipatok pada tingkat yang tidak tepat, yang dapat merusak daya saing dan menyebabkan defisit neraca transaksi berjalan yang terus-menerus dan hilangnya cadangan devisa; dan sistem keuangan yang lemah, yang dapat menciptakan ekspansi dan kontraksi ekonomi. Ketidakstabilan politik dan/atau kelembagaan yang lemah juga dapat memicu krisis.
  • Faktor-faktor eksternal termasuk guncangan, mulai dari bencana alam hingga perubahan besar dalam harga komoditas. Hal-hal tersebut adalah penyebab umum krisis terutama bagi negara-negara berpendapatan rendah yang memiliki kapasitas terbatas untuk menghadapi guncangan seperti itu dan bergantung pada jenis produk ekspor yang sedikit. Kemudian, dalam ekonomi yang semakin terglobalisasi, perubahan sentimen pasar yang tiba-tiba dapat menyebabkan volatilitas aliran modal. Bahkan negara-negara dengan fundamental yang sehat dapat sangat terpengaruh oleh dampak krisis ekonomi dan kebijakan di negara lain.

Terlepas apakah penyebabnya domestik atau eksternal, krisis dapat terjadi dalam banyak bentuk: masalah neraca pembayaran terjadi ketika suatu negara tidak mampu membayar untuk impor penting atau melakukan pembayaran utang luar negerinya; krisis keuangan timbul dari lembaga keuangan yang tidak likuid atau tidak mampu membayar utang; dan krisis fiskal disebabkan oleh besarnya defisit fiskal dan utang. Sering kali, negara-negara yang meminta bantuan IMF menghadapi lebih dari satu jenis krisis karena permasalahan di satu sektor menyebar ke seluruh perekonomian. Krisis umumnya mengakibatkan penurunan tajam dalam pertumbuhan, pengangguran yang lebih tinggi, pendapatan yang lebih rendah dan ketidakpastian lebih besar yang menyebabkan resesi yang mendalam. Dalam kasus-kasus krisis akut, kegagalan bayar atau restrukturisasi utang negara dapat menjadi tidak terhindarkan.

Bagaimana pinjaman IMF membantu

Pemberian pinjaman IMF bertujuan untuk memberi ruang gerak bagi negara-negara untuk menerapkan kebijakan penyesuaian secara runtut, yang akan memulihkan kondisi untuk ekonomi yang stabil dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Kebijakan-kebijakan ini akan bervariasi tergantung keadaan negara. Sebagai contoh, sebuah negara yang menghadapi penurunan mendadak pada harga-harga ekspor utama mungkin membutuhkan bantuan keuangan sembari menerapkan langkah-langkah untuk memperkuat ekonomi dan memperluas basis ekspornya. Negara yang menderita arus keluar modal yang parah mungkin perlu mengatasi masalah yang menyebabkan hilangnya kepercayaan investor—misalnya, suku bunga yang terlalu rendah; defisit anggaran dan stok utang yang tumbuh terlalu cepat; atau sistem perbankan yang tidak efisien atau dikelola dengan buruk.

Tanpa adanya pendanaan IMF, proses penyesuaian untuk negara tersebut dapat menjadi lebih drastis dan sulit. Contohnya, jika investor tidak mau menyediakan pembiayaan baru, negara tersebut tidak akan memiliki pilihan selain menyesuaikan—sering melalui pengetatan yang menyakitkan pada pengeluaran pemerintah, impor dan kegiatan ekonomi. Pembiayaan IMF memfasilitasi penyesuaian yang lebih bertahap dan dipertimbangkan dengan hati-hati. Karena pinjaman IMF biasanya disertai rangkaian tindakan kebijakan korektif, ia juga dapat menjadi pertanda pengakuan bahwa kebijakan yang tepat sedang dilaksanakan.

 

Berbagai instrumen peminjaman IMF dirancang khusus untuk berbagai kebutuhan neraca pembayaran serta keadaan khusus yang dialami negara-negara anggotanya yang beragam (lihat tabel). Negara berpendapatan rendah dapat meminjam dengan persyaratan konsesional (pinjaman lunak) melalui fasilitas yang tersedia dalam Dana Amanah Pengurangan Kemiskinan dan Pertumbuhan (Poverty Reduction and Growth Trust–PRGT; lihat IMF Support for Low-Income Countries, yang saat ini berada pada tingkat bunga nol persen. Secara historis, untuk negara-negara kekuatan ekonomi baru dan negara maju yang berada dalam krisis, sebagian besar bantuan IMF disediakan melalui Stand-By Arrangements (SBA) untuk mengatasi masalah atau potensi masalah neraca pembayaran jangka pendek. Standby Credit Facility (SCF) memiliki tujuan yang serupa bagi negara-negara berpendapatan rendah. Extended Fund Facility (EFF) dan Extended Credit Facility (ECF) yang serupa untuk negara-negara berpendapatan rendah adalah perangkat utama IMF untuk dukungan jangka menengah bagi negara-negara yang sedang menghadapi masalah neraca pembayaran yang berlarut-larut. Penggunaannya telah meningkat secara substansial sejak krisis keuangan global, yang mencerminkan sifat struktural dari masalah neraca pembayaran beberapa negara anggota.

Untuk membantu mencegah atau memitigasi krisis dan meningkatkan kepercayaan pasar selama periode risiko tinggi, negara-negara anggota dengan kebijakan yang sudah kuat dapat menggunakan Flexible Credit Line (FCL) atau Precautionary and Liquidity Line (PLL).

Rapid Financing Instrument (RFI) dan Rapid Credit Facility (RCF) yang serupa untuk negara-negara berpendapatan rendah memberikan bantuan cepat bagi negara-negara dengan kebutuhan neraca pembayaran yang mendesak, termasuk dari guncangan harga komoditas, bencana alam, dan kerentanan domestik.

Peminjaman IMF pada praktiknya

IMF memberikan dukungan keuangan untuk kebutuhan neraca pembayaran atas permintaan negara-negara anggotanya. Tidak seperti bank pembangunan, IMF tidak memberikan pinjaman untuk proyek-proyek tertentu. Dalam menanggapi permintaan seperti itu, tim staf IMF mengadakan diskusi dengan pemerintah untuk menilai situasi ekonomi dan keuangan dan ukuran kebutuhan pembiayaan negara tersebut secara keseluruhan, dan menyepakati respon kebijakan yang tepat.

Biasanya, pemerintah suatu negara dan IMF harus sepakat terhadap suatu program kebijakan ekonomi sebelum IMF mengucurkan pinjaman kepada negara tersebut. Komitmen suatu negara untuk melakukan tindakan kebijakan tertentu, yang dikenal dengan persyaratan kebijakan (policy conditionality), pada umumnya merupakan bagian yang sangat penting dari pemberian pinjaman IMF (lihat tabel). Program kebijakan yang mendasari pengaturan ini umumnya disampaikan kepada Dewan Eksekutif IMF dalam suatu “Letter of Intent” dan dirinci lebih lanjut dalam suatu “Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding)”.

Kemajuan biasanya direview dengan memantau implementasi tindakan kebijakan tersebut. Namun, untuk kesepakatan tertentu, negara-negara dapat menggunakan sumber daya IMF tanpa persyaratan (conditionality) atau dengan persyaratan terbatas karena mereka telah menetapkan komitmen mereka terhadap kebijakan yang sehat (FCL, PLL), atau apabila kesepakatan tersebut dirancang untuk kebutuhan mendesak dan segera, misalnya, karena sifat guncangan yang sementara dan terbatas, atau apabila kapasitas implementasi kebijakan terbatas, termasuk karena kerentanan (RFI, RCF). Secara umum, kembalinya suatu negara ke ekonomi dan keuangan yang sehat memastikan bahwa dana IMF dilunasi sehingga dana tersebut dapat tersedia bagi negara-negara anggota lainnya.

Setelah suatu kesepakatan tentang paket kebijakan dan pembiayaan tercapai, rekomendasi dibuat kepada Dewan Eksekutif IMF untuk mendukung intensi kebijakan negara tersebut dan mengulurkan akses ke sumber daya IMF. Proses ini dapat dipercepat dengan Mekanisme Pendanaan Darurat (Emergency Financing Mechanism) IMF.