## Dewan Eksekutif IMF Menyelesaikan Konsultasi Pasal IV 2019 dengan Indonesia

## Source details

**Canonical URL:** [Dewan Eksekutif IMF Menyelesaikan Konsultasi Pasal IV 2019 dengan Indonesia](https://www.imf.org/-/media/files/news/press-release/2019/pr19305-bah-indonesia.pdf)

## Other formats

- [Markdown version](/-/media/files/news/press-release/2019/pr19305-bah-indonesia.pdf.md)
- [Structured JSON version](/-/media/files/news/press-release/2019/pr19305-bah-indonesia.pdf.json)

---

### Kinerja Ekonomi 2018
- Pertumbuhan PDB riil: 5.2 persen.
- Permintaan domestik kuat, mengimbangi penurunan ekspor netto.
- Pemulihan pertumbuhan kredit mendukung aktivitas ekonomi.
- Inflasi menurun menjadi sekitar 3 persen (di paruh bawah dari rentang target resmi 3,5 ± 1 persen).
- Inflasi inti stabil pada 3 persen.
- Defisit neraca transaksi berjalan melebar menjadi 2,98 persen dari PDB di 2018 (1,6 persen di 2017), terutama karena ekspor komoditas yang lebih rendah dan impor terkait infrastruktur yang lebih tinggi.

### Prospek dan Proyeksi Ekonomi
- Proyeksi pertumbuhan PDB riil: 5.2 persen pada 2019 dan 5.2 persen pada 2020; naik ke tingkat potensial 5.3 persen dalam jangka menengah.
- Pertumbuhan kredit diperkirakan tetap sekitar 12 persen, didukung oleh neraca perbankan yang kuat dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
- Inflasi diproyeksikan tetap berada dalam kisaran target.
- Defisit neraca transaksi berjalan diproyeksikan menurun secara bertahap menjadi 2,6 persen dari PDB selama jangka menengah.
- Defisit fiskal diproyeksikan tetap pada 1,8 persen dari PDB.
- Risiko prospek condong ke sisi negatif. Risiko utama eksternal meliputi:
  - meningkatnya ketegangan perdagangan;
  - pengetatan tajam kondisi keuangan global;
  - pertumbuhan yang lebih lemah dari yang diharapkan di Tiongkok;
  - gejolak harga komoditas, khususnya harga minyak yang lebih tinggi (mendorong peningkatan defisit neraca transaksi berjalan).
- Potensi upside: dimulainya masa jabatan kedua pemerintahan yang dapat mengintensifkan upaya reformasi, meningkatkan kepercayaan, investasi, dan pertumbuhan.

### Penilaian Dewan Eksekutif dan Rekomendasi Kebijakan
- Penghargaan atas respons kebijakan pemerintah terhadap hambatan eksternal pada 2018 yang mendukung kinerja positif.
- Dorongan agar pihak berwenang tetap waspada terhadap risiko, termasuk risiko pembalikan arus modal, mengingat ketergantungan Indonesia pada pembiayaan eksternal.
- Kesimpulan bahwa mencapai pertumbuhan potensial yang lebih tinggi memerlukan paket reformasi struktural yang komprehensif, termasuk:
  - mobilisasi pendapatan domestik yang lebih tinggi;
  - pendalaman keuangan;
  - reformasi komplementer dalam modal manusia, infrastruktur, dan pasar tenaga kerja dan produk.
- Dukungan terhadap bauran kebijakan jangka pendek yang tepat untuk:
  - melindungi stabilitas makroekonomi dan keuangan;
  - menjaga bantalan (buffers);
  - mengatasi kerentanan.
- Rekomendasi kebijakan spesifik:
  - mempertahankan sikap fiskal yang netral;
  - menelaah kebijakan makroprudensial untuk memastikan stabilitas sistem keuangan;
  - peluang untuk relaksasi posisi kebijakan moneter yang hati-hati selama inflasi tetap dalam rentang target, kecuali terjadi tekanan neraca modal yang signifikan;
  - membiarkan nilai tukar terus bergerak sejalan dengan kekuatan pasar, dengan intervensi FX dibatasi untuk mencegah kondisi pasar yang kacau.
- Pengakuan atas upaya melindungi bantalan fiskal, termasuk penghapusan defisit primer pada 2018, dan peningkatan kualitas pengeluaran melalui penyeimbangan belanja infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan jaring pengaman sosial.
- Penekanan perlunya strategi pendapatan jangka menengah yang mencakup:
  - reformasi kebijakan dan administrasi perpajakan yang terurut dan terprioritaskan dengan baik;
  - pembiayaan pengeluaran prioritas dan reformasi struktural;
  - pengurangan ketergantungan pada pembiayaan eksternal.
- Seruan untuk memantau risiko dan utang-utang bersyarat (contingent liabilities) yang timbul dari badan usaha milik negara dan kerjasama pemerintah dan badan usaha.
- Dorongan untuk memperluas reformasi struktural yang sudah berjalan, termasuk:
  - memperkuat tata pemerintahan dan lingkungan bisnis;
  - meningkatkan modal manusia;
  - meningkatkan partisipasi kerja perempuan;
  - mengurangi pembatasan investasi asing langsung;
  - merampingkan peraturan pasar tenaga kerja dan produk.
- Sambutan atas kemajuan dalam penguatan kerangka pengawasan keuangan dan manajemen krisis; dorongan untuk fokus pada area yang diidentifikasi oleh FSAP untuk perbaikan lebih lanjut:
  - mengklarifikasi mandat kelembagaan;
  - meningkatkan pengawasan lembaga keuangan non-bank dan konglomerat keuangan;
  - memperkuat kerangka hukum untuk pengawasan keuangan dan manajemen krisis;
  - memperkuat kerangka manajemen krisis;
  - penguatan kerangka aturan AML/CFT yang berkelanjutan.

### Indikator Ekonomi Terpilih (2014–2020)
- PDB riil (persen perubahan): 2014: 5.0; 2015: 4.9; 2016: 5.0; 2017: 5.1; 2018: 5.2; 2019 (Proyeksi): 5.2; 2020 (Proyeksi): 5.2.
- Permintaan domestik (persen perubahan): 2014: 5.0; 2015: 4.2; 2016: 4.6; 2017: 5.0; 2018: 6.3; 2019 (Proyeksi): 5.4; 2020 (Proyeksi): 5.2.
- Konsumsi swasta 1/ (persen perubahan): 2014: 5.3; 2015: 4.8; 2016: 5.0; 2017: 5.0; 2018: 5.1; 2019 (Proyeksi): 5.1; 2020 (Proyeksi): 5.1.
- Konsumsi pemerintah (persen perubahan): 2014: 1.2; 2015: 5.3; 2016: -0.1; 2017: 2.1; 2018: 4.8; 2019 (Proyeksi): 4.5; 2020 (Proyeksi): 4.5.
- Investasi tetap bruto (persen perubahan): 2014: 4.4; 2015: 5.0; 2016: 4.5; 2017: 6.2; 2018: 6.7; 2019 (Proyeksi): 6.2; 2020 (Proyeksi): 5.9.
- Perubahan persediaan 2/ (kontribusi terhadap pertumbuhan PDB, poin persentase): 2014: 0.5; 2015: -0.6; 2016: 0.2; 2017: -0.1; 2018: 0.7; 2019 (Proyeksi): 0.0; 2020 (Proyeksi): 0.0.
- Ekspor netto 2/ (kontribusi terhadap pertumbuhan PDB, poin persentase): 2014: -0.2; 2015: 0.9; 2016: 0.1; 2017: 0.3; 2018: -1.0; 2019 (Proyeksi): -0.1; 2020 (Proyeksi): 0.0.
- Investasi bruto (persen PDB) 3/: 2014: 34.6; 2015: 34.1; 2016: 33.9; 2017: 33.7; 2018: 34.5; 2019 (Proyeksi): 34.7; 2020 (Proyeksi): 34.9.
- Tabungan nasional bruto (persen PDB): 2014: 31.5; 2015: 32.0; 2016: 32.0; 2017: 32.1; 2018: 31.4; 2019 (Proyeksi): 31.8; 2020 (Proyeksi): 32.0.
- Harga konsumen (pada akhir periode, persen perubahan 12-bulan): 2014: 8.4; 2015: 3.4; 2016: 3.0; 2017: 3.6; 2018: 3.1; 2019 (Proyeksi): 3.1; 2020 (Proyeksi): 3.1.
- Harga konsumen (rerata selama periode, persen perubahan 12-bulan): 2014: 6.4; 2015: 6.4; 2016: 3.5; 2017: 3.8; 2018: 3.2; 2019 (Proyeksi): 3.1; 2020 (Proyeksi): 3.1.
- Pendapatan umum pemerintah (persen PDB): 2014: 16.5; 2015: 14.9; 2016: 14.3; 2017: 14.1; 2018: 14.9; 2019 (Proyeksi): 14.8; 2020 (Proyeksi): 14.9.
- Belanja umum pemerintah (persen PDB): 2014: 18.6; 2015: 17.5; 2016: 16.8; 2017: 16.6; 2018: 16.6; 2019 (Proyeksi): 16.7; 2020 (Proyeksi): 16.7.
- Subsidi energi (persen PDB): 2014: 3.2; 2015: 1.0; 2016: 0.9; 2017: 0.7; 2018: 1.0; 2019 (Proyeksi): 1.0; 2020 (Proyeksi): 1.0.
- Neraca pemerintah umum (persen PDB): 2014: -2.1; 2015: -2.6; 2016: -2.5; 2017: -2.5; 2018: -1.8; 2019 (Proyeksi): -1.8; 2020 (Proyeksi): -1.8.
- Kesimbangan primer (persen PDB): 2014: -0.9; 2015: -1.2; 2016: -1.0; 2017: -0.9; 2018: 0.0; 2019 (Proyeksi): -0.1; 2020 (Proyeksi): -0.1.
- Utang umum pemerintah (persen PDB): 2014: 24.7; 2015: 27.0; 2016: 28.0; 2017: 29.4; 2018: 30.1; 2019 (Proyeksi): 30.2; 2020 (Proyeksi): 29.9.
- Rupiah M2 (persen perubahan 12-bulan; akhir periode): 2014: 13.3; 2015: 9.2; 2016: 11.7; 2017: 9.6; 2018: 5.8.
- Uang primer (persen perubahan 12-bulan; akhir periode): 2014: 11.6; 2015: 3.0; 2016: 4.6; 2017: 9.7; 2018: -1.5.
- Kredit Sektor Swasta (persen perubahan 12-bulan; akhir periode): 2014: 11.8; 2015: 10.3; 2016: 7.7; 2017: 8.7; 2018: 12.0; 2019 (Proyeksi): 12.3; 2020 (Proyeksi): 12.4.
- Suku bunga antarbank satu bulan (rerata selama periode): 2014: 7.5; 2015: 7.1; 2016: 6.5; 2017: 5.6; 2018: 6.2.
- Neraca akun berjalan (milyar dollar AS): 2014: -27.5; 2015: -17.5; 2016: -17.0; 2017: -16.2; 2018: -31.1; 2019 (Proyeksi): -32.4; 2020 (Proyeksi): -34.7.
- Neraca akun berjalan (dalam persen PDB): 2014: -3.1; 2015: -2.0; 2016: -1.8; 2017: -1.6; 2018: -3.0; 2019 (Proyeksi): -2.9; 2020 (Proyeksi): -2.9.
- Neraca perdagangan (milyar dollar AS): 2014: 7.0; 2015: 14.0; 2016: 15.3; 2017: 18.8; 2018: -0.4; 2019 (Proyeksi): -4.6; 2020 (Proyeksi): -0.6.
- Minyak dan gas (netto, milyar dollar AS): 2014: -11.8; 2015: -5.7; 2016: -4.8; 2017: -7.3; 2018: -11.6; 2019 (Proyeksi): -16.2; 2020 (Proyeksi): -17.0.
- Investasi langsung masuk (milyar dollar AS): 2014: 21.8; 2015: 16.6; 2016: 3.9; 2017: 20.6; 2018: 22.0; 2019 (Proyeksi): 23.7; 2020 (Proyeksi): 27.0.
- Neraca keseluruhan (milyar dollar AS): 2014: 15.2; 2015: -1.1; 2016: 12.1; 2017: 11.6; 2018: -7.1; 2019 (Proyeksi): 1.2; 2020 (Proyeksi): 2.8.
- Dasar tukar, persen perubahan (di luar minyak): 2014: 1.4; 2015: -1.8; 2016: 0.4; 2017: 1.3; 2018: 1.1; 2019 (Proyeksi): -0.6; 2020 (Proyeksi): -0.1.
- Cadangan bruto (milyar dollar AS, di akhir periode): 2014: 111.9; 2015: 105.9; 2016: 116.4; 2017: 130.2; 2018: 120.7; 2019 (Proyeksi): 121.9; 2020 (Proyeksi): 124.7.
- Cadangan bruto (dalam bulan impor barang dan jasa prospektif): 2014: 8.1; 2015: 8.0; 2016: 7.6; 2017: 7.2; 2018: 6.4; 2019 (Proyeksi): 6.0; 2020 (Proyeksi): 5.7.
- Cadangan bruto (sebagai persentase utang jangka pendek) 4/: 2014: 189; 2015: 191; 2016: 213; 2017: 237; 2018: 203; 2019 (Proyeksi): 185; 2020 (Proyeksi): 171.
- Total utang eksternal (milyar dollar AS): 2014: 293.3; 2015: 310.7; 2016: 320.0; 2017: 352.5; 2018: 376.8; 2019 (Proyeksi): 415.0; 2020 (Proyeksi): 455.2.
- Total utang eksternal (sebagai persentase PDB): 2014: 32.9; 2015: 36.1; 2016: 34.3; 2017: 34.7; 2018: 36.9; 2019 (Proyeksi): 37.7; 2020 (Proyeksi): 37.7.
- Nilai tukar, Rupiah per dollar AS (rerata selama periode): 2014: 11,862; 2015: 13,391; 2016: 13,306; 2017: 13,383; 2018: 14,231.
- Nilai tukar, Rupiah per dollar AS (pada akhir periode): 2014: 12,435; 2015: 13,788; 2016: 13,473; 2017: 13,568; 2018: 14,390.
- Jakarta Stock Exchange (persen perubahan 12-bulan, indeks gabungan): 2014: 22.3; 2015: -12.1; 2016: 15.3; 2017: 20.0; 2018: -2.5.
- Produksi minyak (ribuan barrel per hari): 2014: 794; 2015: 800; 2016: 820; 2017: 815; 2018: 800; 2019 (Proyeksi): 740; 2020 (Proyeksi): 710.
- PDB nominal (trilyun rupiah): 2014: 10,570; 2015: 11,526; 2016: 12,402; 2017: 13,587; 2018: 14,826; 2019 (Proyeksi): 16,047; 2020 (Proyeksi): 17,409.

*Sumber: Data disediakan oleh pemerintah Indonesia; serta estimasi dan proyeksi staf IMF.*

---


_Source: https://www.imf.org/-/media/files/news/press-release/2019/pr19305-bah-indonesia.pdf_
