Pidato

Sambutan Pembuka oleh Christine Lagarde untuk Konferensi Pers Pertemuan Tahunan

13 Oktober 2018

    Pendahuluan

    Good morning, Bonjour— selamat pagi. Selamat datang di Pertemuan Tahunan 2018!

    Atas nama IMF, izinkan saya untuk mengungkapkan perasaan duka dan belasungkawa kepada masyarakat Indonesia, khususnya kepada keluarga-keluarga yang telah kehilangan dan sedang melalui masa-masa sulit saat ini.

    Senin lalu saya berkunjung ke Lombok; tim saya juga berkunjung ke Sulawesi hari sebelumnya; dan kami dapat melihat di lapangan kehancuran yang disebabkan oleh bencana alam yang tragis ini. Namun, kami juga bisa melihat ketangguhan, keberanian, dan keteguhan orang Indonesia, dan tentunya juga sebagai lembaga, sebagai komunitas, kami pun berusaha untuk membantu dalam cara apa pun yang kami sanggup.

    Dan sebagaimana saya katakan dalam Bahasa Indonesia:IMF berdiri bersama Anda (the IMF stands with you).

    Semangat solidaritas dan keberanian dan ketangguhan itu juga menunjukkan bagaimana suatu negara dapat mengatasi keadaan ekonomi yang berat dan melakukannya dengan gemilang. Sudah tentu Indonesia adalah contoh yang jelas tentang hal itu.

    Anda akan sudah melihat tidak hanya Agenda Kebijakan Global (Global Policy Agenda) , namun juga sudah mendengar dari tim kami kemarin dan hari sebelumnya dalam publikasi World Economic Outlook, Global Financial Stability Report, dan Fiscal Monitor. Anda juga akan melihat prakiraan kami serta risiko yang kita lihat di cakrawala.

    Jadi yang ingin saya lakukan adalah mengidentifikasi tiga pertanyaan kunci.

    1. Pertanyaan pertama saya: apakah ekonomi kuat?

    Jawabannya adalah: ya, ekonomi memang kuat saat ini. Namun ini pertanyaan sesungguhnya: apakah ekonomi sudah cukup kuat?

    Jawaban kami untuk itu: mungkin belum cukup kuat, karena kita jelas melihat bahwa pertumbuhan telah melandai—kami memperkirakan pertumbuhan global akan tetap berada pada 3,7 persen untuk tiga tahun berturut-turut (2017-19). Kami juga melihat bahwa pertumbuhan menyebar lebih tidak merata di antara negara-negara.

    Selain itu, sebagian risiko yang sudah kami sorot, khususnya pada Pertemuan Musim Semi kita bulan April, sudah mulai mewujud, khususnya dari hambatan perdagangan yang meningkat. Jika ketegangan tersebut bereskalasi, ekonomi global akan mengalami pukulan signifikan.

    Maka rekomendasi kuat kami adalah untuk mende-eskalasi ketegangan tersebut dan bekerja untuk mewujudkan sistem perdagangan global yang lebih kuat, lebih adil, tepat untuk tujuan, dan tepat untuk masa depan—karena jika pelayanan tidak tercakup dengan memadai, jika transformasi digital tidak tercakup secara memadai dalam rerangka perdagangan saat ini, maka sesungguhnya kita tidak paham apa yang sedang kita hadapi, dan kita kemungkinan akan menyia-nyiakan kenaikan produktivitas yang seharusnya bisa kita raih.

    2. Pertanyaan kedua saya: apakah ekonomi sudah cukup aman?

    Pada dasarnya begini: sepuluh tahun sejak krisis keuangan global, kita memang lebih aman, dan berbagai langkah sudah diambil, namun kita masih belum cukup aman.

    Dengan utang pemerintah dan swasta global pada tingkat tertinggi sepanjang masa, perubahan haluan angin sedikit pun dapat memicu arus keluar modal dan ketidakstabilan ekonomi di negara-negara kekuatan ekonomi baru (emerging markets), sebagaimana yang sudah kita lihat di sebagian negara tersebut.

    Untuk mengamankan diri terhadap ini, rekomendasi kami adalah untuk mendorong negara-negara untuk menggunakan bauran kebijakan domestik dan global yang tepat.

    Kita juga perlu terus mendorong agenda regulasi keuangan —dan menolak kemunduran. Sudah banyak kemajuan yang diraih dalam dekade terakhir, namun juga masih ada agenda yang belum selesai—ditambah dengan tantangan tambahan dari inovasi keuangan yang terus berlangsung, yang memiliki potensi positif namun juga negatifnya.

    Ekonomi global yang lebih aman juga mengharuskan kita menyasar persoalan mengenai keberlanjutan (sustainability), termasuk ancaman eksistensial perubahan iklim. Kami tahu dari kerja kami tahun lalu, khususnya dalam World Economic Outlook, bahwa negara-negara berpendapatan rendah dan negara-negara dataran rendah adalah korban pertama perubahan iklim.

    Dan kita tahu, berdasarkan laporan terbaru dari Panel Antar-Pemerintah PBB tentang Perubahan Iklim ( UN Intergovernmental Panel on Climate Change—IPCC), bahwa waktunya sudah sangat genting dan kita sama sekali tidak bisa membuang-buang waktu lagi.

    3. Pertanyaan saya yang ketiga: apakah manfaat pertumbuhan sudah cukup merata?

    Jawaban untuk itu adalah: manfaat dari pertumbuhan yang lebih kuat belum cukup merata agar ekonomi global kita dapat terus tumbuh secara berkelanjutan.

    Seperti ditunjukkan penelitian kami, ketimpangan yang berlebihan—baik disebabkan teknologi, perdagangan, integrasi global, atau kebijakan yang mengistimewakan modal daripada tenaga kerja—sesungguhnya mempertajam ketegangan ekonomi dan sosial, khususnya di negara-negara ekonomi maju.

    Sebagaimana yang sudah saya sampaikan dalam pidato Curtain Raiser minggu lalu, kita harus mengemudikan perahunya, bukan membiarkannya hanyut terombang-ambing !

    Artinya, kita harus menggunakan momentum pertumbuhan saat ini—karena kita masih punya itu—untuk melaksanakan langkah kebijakan yang benar di bidang-bidang yang saya sebutkan tadi.

    Untuk mencapai tujuan-tujuan itu, kita juga akan memerlukan kerja sama internasional yang lebih kuat. Ada satu ungkapan yang indah dalam bahasa Bali yang menangkap semangat ini— menyama braya, “kita semua bersaudara.”

    Karena itulah kita bergandeng tangan. Kita ada di perahu yang sama, yang harus kita kemudikan, tidak kita biarkan hanyut. Kita perlu jaga itu erat di hati.

    Dengan itu, dengan senang hati saya siap menjawab pertanyaan Anda.

    Thank you —Terima Kasih.

    Departemen Komunikasi IMF
    HUBUNGAN MEDIA

    TELEPON: +1 202 623-7100Email: MEDIA@IMF.org